Tahukah Anda Sejarah Kota Kendari ?



Kota Kendari

Kota Kendari

 

ZONASULTRA.COM,KENDARI– Penemu, penulis dan pembuat peta pertama tentang Kendari adalah Vosmaer(berkebangsaan Belanda) tahun 1831. Pada tanggal 9 Mei 1832 Vosmaer membangun istana raja Suku Tolaki bernama TEBAU di sekitar pelabuhan Kendari dan setiap tanggal 9 Mei pada waktu itu dan sekarang dirayakan sebagai hari jadi Kota Kendari.


Kota Kendari sebagai kota dagang merupakan fungsi yang tertua baik sumber lisan dari pelayar Bugis dan Bajo maupun dalam Lontara’ Bajo, dan sumber penulis Belanda (Vosmaer,1839) dan penulis Inggris (Heeren, 1972) menyatakan bahwa para pelayar Bugis dan Bajo telah melakukan aktivitas perdagangan di Teluk Kendari pada akhir abad ke-18 ditunjukkan adanya pemukiman kedua etnis tersebut disekitar Teluk Kendaripada awal abad ke-19.

Pada zaman kolonial Belanda Kendari adalah Ibukota Kewedanan dan Ibukota Onder Afdeling Laiwoi. Kota Kendari pertama kali tumbuh sebagai Ibukota Kecamatan dan selanjutnya berkembang menjadi Ibukota Kabupaten Daerah Tingkat II berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959, dengan perkembangannya sebagai daerah permukiman, pusat perdagangan dan pelabuhan laut antar pulau. Luas kota pada saat itu ± 31.400 km².

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1978, Kendari menjadi Kota Administratif yang meliputi tiga wilayah kecamatan yakni Kecamatan Kendari, Mandonga dan Poasia dengan 26 kelurahan dan luas wilayah ± 18.790 Ha. Mengingat pertumbuhan dan perkembangan Kota Kendari, maka dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1995 Kota Kendari ditetapkan menjadi Kota Madya Daerah Tingkat II Kendari, dengan luas wilayah mengalami perubahan menjadi 296 Km².

Dengan jumlah penduduk sekitar 314.126 jiwa ditahun 2013, mayoritas penduduk Kota Kendari memeluk agama Islam. Kota Kendari dihuni oleh masyarakat dari Suku Tolaki, Suku Muna, Suku Buton, dan Suku Bugis. Sedangkan penduduk asli Kendari berasal dari Suku Tolaki.

Kebudayaan yang dimiliki Kota Kendari mayoritas bersumber dari kebudayaan Suku Tolaki. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Kendari memakai konsep ‘Kalo Sara’ yang berasal dari kebudayaan Tolaki. ‘Kalo Sara’ adalah nilai-nilai luhur kebudayaan Tolaki yang dilaksanakan pada setiap unsur kehidupan. Misalnya, dalam interaksi sosial, hukum adat, ekonomi, agama, budi pekerti, dan kesenian. Bagi masyarakat Kendari ‘Kalo Sara’ merupakan penyelaras dalam kehidupan, baik dalam berinteraksi dengan sesama, maupun dalam berinteraksi dengan alam dan Tuhan.

Perkembangan pembangunan kota Kendari pun semakin berkembang, terbukti dengan kepemimpinan Walikota Asrun selama 2 periode sejak 13 Agustus 2007 sampai sekarang, berusaha menyulap kota Kendari menjadi kota Green City.

Terbukti dengan sejumlah prestasi yang diraih oleh kota Kendari diantaranya meraih piala Adipura sebanyak 5 kali berturut-turut 2009,2010,2011,2012 dan 2013 setelah itu Kendari meraih Adipura Kencana pada tahun 2014 dan 2015.

Selain prestasi diatas, saat ini Kota Kendari juga telah menjadi tempat kegiatan Nasional dan Internasional. Tahun 2014 kemarin, kota Kendari tuan rumah Pesparawi dan Festival Keraton Nusantara di tahun lalu 2015. Sehingga kita patut berbangga menjadi warga kota Kendari, mari kita bersama-sama menjaga kota Kendari dengan slogan “Kendari Kota Bertqwa” agar kedepannya kota ini menjadi salah satu kota terbaik di Indonesia.